Penumpang Melonjak, Sampah Bandara Soekarno-Hatta Menumpuk

Lonjakan dalam beberapa tahun terakhir ini membuat produksi sampah di mengalami yang cukup signifikan. Selain itu, penumpukan sampah di bandara terbesar di Indonesia tersebut juga terjadi lantaran tidak ada kapasitas mesin insenerator pengolah sampah bandara.

Senior General Manager Bandara Soekarno-Hatta, Suriawan Wakan - www.airmagz.com

Senior General Manager Bandara Soekarno-Hatta, Suriawan Wakan – www.airmagz.com

“Produksi sampah memang terus meningkat sehingga terjadi penumpukan,” ujar Senior General Manager Bandara Soekarno-Hatta, Suriawan Wakan. “Selain lonjakan penumpang, kapasitas mesin pemusnah sampah bandara hanya mampu memusnahkan 50 hingga 60 meter kubik sampah dari total 120 sampai 150 meter kubik produksi sampah harian.”

Ditambahkan Wakan, sampah di Bandara Soekarno-Hatta meliputi sampah pesawat yang ada di dalam kawasan apron dan air side bandara dengan volume mencapai 120 hingga 150 meter kubik per hari. “Itu belum termasuk sampah dari kawasan line side bandara, seperti perkantoran dan tenant-tenant di area bandara,” sambung Wakan.

“Sampah sisi udara (air side) semuanya dimusnahkan di mesin insenerator dengan cara dicicil,” imbuhnya. “Namun, karena produksi sampah semakin banyak dan menumpuk, sisa yang tak masuk ke insenerator bandara diserahkan ke perusahaan vendor untuk dimusnahkan di daerah Karawang, Jawa Barat.“

Namun, karena sisa sampah dibuang di Karawang, membuat warga di sekitar bandara protes. Pasalnya, sejak satu bulan ini, warga yang berada di Ring I Bandara Soekarno-Hatta yang meliputi Belendung, Selapajang, Kota Tangerang dan Rawarengas, Bojong Renged dan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang tidak mendapat pasokan sampah.

“Padahal, sampah itu menghidupi ratusan jiwa warga di sekitar bandara yang mayoritas pemulung,” ujar Pendiri Forum Ketua RT/RW wilayah Ring I Bandara Soekarno-Hatta, Achmad Haris. “Kami sudah melayangkan surat protes ke PT Angkasa Pura II, tetapi tidak ada tanggapan.”

Sebelumnya, warga mendapatkan pasokan 13 rit atau 13 truk dengan jumlah 160 meter kubik sampah bandara per hari. “Sampah apron terdiri dari plastik, koran, botol air mineral, gelas kristal, aluminium, kaleng minuman, dan tissu,” katanya.

“Kami membeli sampah itu dengan harga Rp80 ribu per truk,” sambungnya. “Lalu, sampah-sampah itu dipilah-pilah, ada yang dibuang ke pabrik untuk dilebur kembali dan didaur ulang menjadi bahan baku keset.”