KKP Pasang 1.000 Perangkap Nyamuk Untuk Cegah Virus Zika di Bandara Soetta

Jakarta – Kementerian Kesehatan melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan () Bandara Internasional Soekarno Hatta, , Tangerang terus melakukan berbagai antisipasi untuk mencegah masuknya virus ke Indonesia. Setelah memasang alat pemindai suhu tubuh (thermoscanner) kini KKP memasang ribuan perangkap larva atau lavitrap untuk mengantisipasi penyebaran virus .

“Kami memasang 1.000 lavitrap secara massal sehingga pengendalian optimal,” kata Kepala KKP Bandara Soetta, Susanto, Kamis (15/9).

KKP) Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menyiapkan alat Lavitrap

KKP Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menyiapkan alat Lavitrap [foto:Antara]

Lavitrap merupakan perindukan nyamuk buatan yang berguna sebagai tempat bertelur nyamuk Aedes. Usai telur berkembang biak jadi larva, larva tersebut akan bergerak ke dasar dan terperangkap di bawah kasa.

Dengan sistem indukan buatan itu larva tak akan memiliki kesempatan untuk berkembang jadi nyamuk Aedes dewasa. Bila menjadi nyamuk pun ia tak dapat terbang lagi dan nantinya akan mati dengan sendirinya. Dipasangnya lavitrap di area Bandara ini adalah salah satu langkah untuk menghentikan rantai kehidupan nyamuk.

“Tujuan pengendalian vektor adalah upaya untuk menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes sampai serendah mungkin sehingga kemampuan sebagai vektor menghilang,” beber Susanto.

Apalagi Bandara Soetta baru saja membangun Terminal 3 secara besar-besaran. Banyak kemungkinan nyamuk berkembang biak di tempat-tempat tersembunyi.

“Sejak ada pembangunan perluasan masih sangat mungkin nyamuk berkeliaran. Oleh karena itu daripada nyamuk bertelur, maka disiapkanlah lavitrap di tempat-tempat strategis,” ujarnya.

“Hingga saat ini kami juga sudah melakukan pemasangan Thermal Scanner untuk memeriksa penumpang demam dan membagi Health Alert Card untuk pengamatan,” kata Susanto.

Masa inkubasi virus Zika sekitar 2-7 hari sejak terinfeksi. Gejala yang ditimbulkan antara lain demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit tubuh, punggung, dan kaki, mata merah, kepala, serta nyeri otot maupun sendi.

Tetapi tak semua penderita Zika menunjukkan gejala demam tinggi. Bahkan hanya ada 1 di antara 5 penderita yang suhu tubuhnya tinggi. Oleh karena itu melakukan pengidentifikasian dengan thermoscanner tidak terlalu efektif.