Tiket Dibanderol Rp 70 Ribuan, Kini Penumpang Bisa Ke Bandara Soekarno Hatta Naik KRL

Bepergian dengan menaiki mungkin akan terasa mengasyikkan bagi sebagian orang. Hal itu bisa jadi karena tidak mengenal kata macet, sehingga perjalanan terasa lebih cepat.

Tidak hanya pergi dari satu ke lain, naik kereta juga bisa mengantarkan Anda dari satu ke lain (masih dalam satu ). Misalnya jalur atau rute yang dilalui oleh kereta api Soekarno-Hatta.

Kereta Api Bandara Soekarno Hatta - finance.detik.com

Kereta Api Bandara Soekarno Hatta – finance.detik.com

Diresmikan awal Januari 2018, kereta api bandara diminati oleh masyarakat. Hal itu terlihat dari ramainya , tempat di mana kereta diberangkatkan atau rute yang dilewati. Salah satu stasiunnya adalah Sudirman Baru.

Rute kereta Bandara Soekarno-Hatta adalah Stasiun Manggarai-Sudirman Baru-Duri-Batu Ceper-Bandara Soekarno-Hatta. Namun, pada pengoperasian awal, kereta bandara tidak langsung berangkat dari Stasiun Manggarai dan Stasiun Duri, sebab masih dalam proses konstruksi. Sehingga para saat ini dapat berangkat dari Stasiun Sudirman Baru dan Stasiun Batu Ceper. Dengan adanya kereta ini, maka memungkinkan pergi ke Bandara Soekarno-Hatta naik KRL atau kereta rel listrik.

Pengelola kereta api bandara, PT Railink, mengatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan akses bagi penumpang di Stasiun Sudirman ke Stasiun Sudirman Baru sehingga nantinya para penumpang KRL yang ingin melanjutkan perjalanan ke bandara tak perlu keluar stasiun. “Setelah prasarana siap, kami operasionalkan secepatnya,” kata JM Marcomm dan PR PT Railink, Diah Suryandari.

Untuk , selama masa percobaan yaitu 26 Desember 2017 sampai 1 Januari 2018, penumpang dikenakan tarif promo Rp 30.000. Setelah itu dikenakan tarif biasa Rp 70.000. Walaupun telah diresmikan oleh Presiden Jokowi, namun beliau mengatakan bahwa itu dirasa masih terlalu tinggi bagi masyarakat.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berjanji akan memenuhi permintaan Presiden, meski PT Railink harus mencari sumber pemasukan lain nontiket untuk menutupi biaya operasional. Hal itu dikarenakan tarif tiket sebenarnya adalah sebesar Rp 100 ribu per penumpang lalu diturunkan menjadi Rp 70 ribu per penumpang.

“Kalkulasi secara matematis FS (feasibility study) itu seratus ribu rupiah, dan yang memutuskan harga tujuh puluh ribu rupiah adalah Presiden. Hal ini tentu membuat Railink harus mencari pemasukan lain untuk sisanya,” tutur Budi Karya Sumadi.

Harga tiket yang relatif tinggi itu dikeluhkan oleh para penumpang, salah satunya yaitu Vero. “Penumpang banyak yang kecewa juga soal harga, karena belum tahu kapan berakhir masa promonya. Sebelumnya kan Rp 30.000, sekarang jadi Rp 70.000. Saya tidak tahu, tahunya masih Rp 30.000, ternyata itu masih trial,” tutur Evo.

Meskipun terbilang cukup mahal harga tiketnya, para penumpang bisa merasakan di dalam kereta seperti penyejuk ruangan (AC), pengisi daya ponsel (charging port), toilet terpisah antara pria dan wanita. Di tiap kereta dilengkapi bagasi khusus untuk menempatkan barang bawaan penumpang serta empat layar televisi LED untuk hiburan dan memberikan informasi posisi kereta.