Terminal 1 & 2 Bandara Soekarno-Hatta Bakal Khusus Maskapai LCC

TANGERANG – PT Angkasa Pura II bersiap untuk merevitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2 . Ke depannya, dua terminal ini akan digunakan untuk berbiaya murah atau low cost carrier (LCC). Terminal 1 khusus untuk domestik, sedangkan Terminal 2 khusus untuk domestik dan .

Muhammad Awaluddin, Presiden Direktur Angkasa Pura II - ekbis.rmol.co

Muhammad Awaluddin, Presiden Direktur Angkasa Pura II – ekbis.rmol.co

“Sebenarnya, untuk Terminal 1, sudah untuk LCC tetapi domestik. Kami sedang siapkan untuk menjalankan sesuai arahan Presiden dan Menteri BUMN dalam menggaet turis,” tutur Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, Senin (16/7) kemarin. “Kami akan reposisi Terminal 2 khusus maskapai LCC penerbangan domestik dan internasional.”

Ia menambahkan, konsep terminal penerbangan berbiaya hemat sebenarnya sudah ada di Bandara Soekarno-Hatta, seperti Terminal 1 yang memang khusus untuk penerbangan LCC rute domestik yang diisi oleh maskapai Lion Air dan Citilink. Namun, masih belum sempurna karena adanya Batik Air di terminal itu, sedangkan Terminal 2 masih mengoperasikan penerbangan internasional full service.

“Yang ingin kami lakukan adalah upgrade terminal yang sudah ada, meskipun dalam kenyataannya sudah terjadi segmentasi itu. Kami melihat program ini bisa disinkronkan dengan revitalisasi,” sambung Awaluddin. “Kami juga sudah melakukan rapat dengan Menteri BUMN serta Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata terkait rencana penyesuaian terminal LCC.”

Sebelumnya, Menteri Pariwisata, Arief Yahya, memang sempat mengusulkan ada terminal khsusu maskapai berbiaya murah di bandara di Indonesia. Pasalnya, hingga saat ini, Indonesia belum memiliki terminal khusus LCC, sehingga maskapai LCC yang mendarat di Tanah Air, seperti AirAsia, Scoot, dan Jetstar, harus menggunakan terminal full service dengan harga lebih tinggi.

“Beberapa bandara di Jepang telah membangun terminal ini, seperti Bandara Narita, Bandara Kansai, Bandara Naha, dan Bandara Nagoya,” ujar Arief. “Hasilnya, turis inbound ke Jepang tumbuh 33 persen dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 dan menjadi the fastest rate in the world, mencapai 28,7 juta turis pada tahun 2017.”