Stasiun Batu Ceper Belum Dilengkapi Signage Perpindahan KRL ke KA Bandara Soetta

JAKARTA – Internasional diharapkan menjadi salah satu yang bakal memudahkan masyarakat yang ingin menuju bandara di kawasan Cengkareng  tersebut. Sayangnya, meski sudah beroperasi hampir satu bulan, namun perpindahan antar-moda, terutama dari kereta rel listrik () ke kereta bandara, masih belum dilengkapi.

Penumpang menanti kedatangan kereta Bandara Soekarno-Hatta di Stasiun Batu Ceper, Kota Tangerang - kompas.com

menanti kedatangan kereta Bandara Soekarno-Hatta di Batu Ceper, Kota Tangerang – kompas.com

Dilansir dari Kompas, seorang warga bernama Alvino (34) kebingungan ketika ia ingin berpindah angkutan dari KRL commuter line ke kereta Bandara Soekarno-Hatta di Stasiun Batu Ceper, beberapa waktu lalu. Kebingungan tersebut disebabkan belum ada satu pun papan penunjuk arah atau signage yang dipasang di stasiun KRL sehingga dirinya harus bertanya terlebih dulu ke petugas.

Sayangnya, petugas yang ditanya, mulai yang berada di loket tiket hingga cleaning service, tidak memberikan jawaban yang pasti. Alvino hanya diarahkan untuk menyeberang dari Stasiun Batu Ceper untuk KRL commuter line ke Stasiun Batu Ceper untuk kereta bandara yang melewati hunian warga. “Ketiadaan signage sangat disayangkan karena sebenarnya dapat memudahkan penumpang berpindah antar-moda di Stasiun Batu Ceper,” kata Alvino.

Sementara itu, JM Marcomm and PT Railink, Diah Suryandari, hanya menyampaikan permohonan maaf bila ada hal yang kurang berkenan dari mereka. Sebagai operator kereta Bandara Soekarno-Hatta, pihaknya pun akan segera mengoordinasikan dengan petugas lapangan untuk melengkapi fasilitas perpindahan antar-moda.

Terlepas dari masalah tersebut, PT Railink mengklaim bahwa setiap hari, ada 1.600 hingga 1.700 orang yang menggunakan kereta Bandara Soekarno-Hatta. Jika dihitung secara total, sudah ada sekitar 75 ribu penumpang yang menggunakan transportasi tersebut sejak pertama kali dioperasikan tanggal 26 Desember 2017 hingga pekan kemarin.

“Dari total okupansi 272 kursi dalam satu rangkaian, setiap perjalanan terisi 15 persen sampai 20 persen, “ sambung Diah. “Jika ada yang mengatakan kereta ini sepi peminat, mungkin saja terjadi, tetapi hanya di jam-jam tertentu. Misalnya saja, pada perjalanan pertama waktu Subuh atau perjalanan terakhir di malam hari.”