Soekarno-Hatta Dapat Predikat Bandara Paling Tidak Tepat Waktu Versi OAG

Jakarta – Dalam survei yang dilakukan perusahaan perjalanan udara yang berbasis di Inggris, OAG, tercatat sebagai salah satu bandara paling tidak tepat waktu di dunia.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta - id.wikipedia.org

Bandara Internasional Soekarno-Hatta – id.wikipedia.org

Perusahaan asal Inggris tersebut melakukan penilaian terhadap 513 bandara di seluruh dunia sejak periode Juni 2017 hingga Mei 2018. Berdasarkan situs OAG, Bandara Soetta menduduki posisi 3 paling bawah atau paling buruk dengan kinerja tahunan tingkat ketepatan waktu (on time performance/OTP) sebesar 58,5% dan predikat bintang 1. OTP diukur dari keberangkatan dan kedatangan yang berlangsung kurang dari 15 menit usai keberangkatan/kedatangan, termasuk pembatalan.

Menurut AirNav Indonesia yang mengatur lalu lintas udara, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi On Time Performance di Bandara Soetta. “Delay atau tidak tercapainya OTP disebabkan oleh berbagai faktor kompleks yang melibatkan seluruh stakeholder , mulai dari ketepatan waktu , pengelola ground handling, cuaca dan lain sebagainya,” ujar Manager Humas AirNav Indonesia Yohanes HD Sirait, seperti dilansir Detik.

Kepadatan lalu lintas pesawat di Bandara Soekarno-Hatta mencapai 490.585 penerbangan dalam setahun, hal ini pula yang terhitung sebagai faktor utama yang mempengaruhi OTP. Sementara itu, bandara lain yang lebih tidak tepat waktu dibandingkan Bandara Soetta adalah Bandara Tunis dengan tingkat OTP hanya 43,4% dan Bandara Islamabad sebesar 56,9%. Padahal kedua bandara tersebut hanya melayani kurang dari 50 ribu penerbangan dalam satu tahun.

Kemudian bandara besar lain yang juga tercatat kurang tepat waktu adalah Bandara Mumbai di India dengan tingkat OTP 320.115 penerbangan. Selanjutnya ada Bandara Lisbon, Portugal sebesar 60,7% dengan 204.297 penerbangan, dan Bandara Paris Orly Prancis sebesar 61,5% dengan 231.688 penerbangan. Berikut daftar 10 bandara di dunia yang paling tidak tepat waktu versi OAG:

  1. Tunis, Tunisia (43,3% dari 49.307 penerbangan)
  2. Islamabad, Pakistan (56,9% dari 36.231 penerbangan)
  3. Soekarno-Hatta, Indonesia (58,5% dari 490.585 penerbangan)
  4. Puerto Princesa, Filipina (58,6% dari 13.341 penerbangan)
  5. Mumbai, India (60,0% dari 320.115 penerbangan)
  6. Lisbon, Portugal (60,7% dari 204.297 penerbangan)
  7. Paris Orly, Prancis (61,5% dari 231,688 penerbangan)
  8. Yiwu, China (61,5 % dari 11.714 penerbangan)
  9. Kuwait, Kuwait (61,7% dari 109.400 penerbangan)
  10. Manchester, Inggris (61,9% dari 180,178 penerbangan)

Dari Indonesia sendiri bandar udara yang mewakili hanya Bandara Soetta, sedangkan di negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand diwakili lebih dari satu bandara. Masih belum diketahui mengapa OAG hanya mengambil Bandara Soetta saja sebagai tolok ukur survei tersebut.