Rugi Rp 1,2 Triliun, Sriwijaya Air Tutup Beberapa Rute Penerbangan

Jakarta – Dalam rangka efisiensi operasional perusahaan, telah menutup beberapa rute penerbangan dalam negeri. Pasalnya, pada tahun 2018 lalu, maskapai yang menjalin kerja sama operasional dengan maskapai nasional Garuda Indonesia ini tercatat mengalami kerugian cukup besar mencapai angka Rp 1,2 triliun.

Joseph Tendean, Direktur Niaga Sriwijaya Air - kumparan.com

Joseph Tendean, Direktur Niaga Sriwijaya Air – kumparan.com

“Rute-rute yang rugi kita tutup, rute-rute yang untung kita buka, kita tambah,” kata Direktur Niaga Sriwijaya Air Joseph Tendean di Jakarta, Senin (15/7), seperti dilansir Kompas. Lebih lanjut Joseph menerangkan bahwa setidaknya terdapat 6 rute penerbangan Sriwijaya yang resmi ditutup, di antaranya adalah rute penerbangan ke Banyuwangi.

“Yang kita cut off itu kayak Banyuwangi kita udah enggak terbang, kemudian Merauke-Nabire, ada beberapa mungkin sekitar 5-6 rute yang kita cut,” papar Joseph. Sedangkan rute penerbangan yang ditambah Sriwijaya Air ada 4 rute. “Kita gantiin tuh kayak Medan-Surabaya kita mau mulai kemudian kita buka Jakarta-Manado-Sorong, kayak gitu. Terus kita buka Surabaya-Samarinda,” ucap Joseph.

Sementara itu, meski maskapai low cost carrier (LCC) sejak beberapa waktu lalu telah menurunkan tiketnya, Sriwijaya Air selaku maskapai medium service masih belum berencana menurunkan mereka layaknya maskapai berbiaya rendah. “Belum (menurunkan harga ). Saat ini kan kita baru aja lepas daripada liburan anak sekolah, yang sekarang masih banyak lah, istilahnya orang-orang yang masih harus balik,” terang Joseph.

Menurutnya saat ini masih memasuki shoulder season, di mana masyarakat masih ada yang menikmati liburan. Oleh sebab itu Sriwijaya Air masih belum menurunkan harga tiket karena permintaan pun masih tinggi. “Ini kita sekarang masih di shoulder season jadi belum tepat juga kita mungkin (untuk menurunkan harga tiket),” katanya.

Sriwijaya Air sendiri biasanya baru akan mendiskon harga tiket pesawat ketika memasuki low season. Langkah ini dilakukan guna menarik minat penumpang di tengah load factor atau tingkat keterisian kursi yang menurun. “Tetap ada strategi untuk nurunin harga ya untuk kita bisa mencapai target kita. (penurunan harga tiket saat low season) bisa sampai 15 persen 20 persen,” tandasnya.