Perbandingan Fasilitas KLIA vs Bandara Internasional Soekarno-Hatta

sejak tahun lalu memang cukup pesat. Tak heran jika saat ini Soetta kerap dibanding-bandingkan internasional terbaik lainnya di dunia seperti Changi di Singapura dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia. Beberapa waktu lalu Soetta baru saja membuka terminal baru yang dinamakan . Dihadirkannya T3 Ultimate ini merupakan salah satu strategi PT Angkasa Pura (AP) II untuk meningkatkan daya saing Bandara Soetta sebagai bandara terbaik di kawasan ASEAN.

Kuala Lumpur International Airport - www.klia2.info

Kuala Lumpur International Airport – www.klia2.info

Beberapa waktu lalu sewaktu masih menjabat sebagai Direktur Utama PT AP II, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan jika dioperasikannya Terminal 3 Ultimate akan membuat Bandara Soetta bukan lagi menjadi bandara tujuan akhir, tetapi berganti menjadi bandara transit. Terutama karena frekuensi penerbangan langsung (direct flight) internasional yang ditambah juga akan meningkatkan jumlah penumpang dari dan ke luar negeri.

Terminal 3 Ultimate mengusung konsep kearifan lokal yang menampilkan berbagai ornamen khas Indonesia serta dilengkapi berbagai memadai seperti area parkir yang luas dan landasan pacu (runway) untuk pesawat berbadan besar (wide body), hingga gerbang keberangkatan yang memadai.

Setelah Terminal 3 Ultimate rampung dibangun, muncul lagi fasilitas baru di Bandara Soetta, yakni skytrain atau kereta layang. Skytrain sengaja dihadirkan untuk memudahkan perpindahan antar terminal. Sebelumnya fasilitas semacam ini sudah ada di Singapore Changi Airport dan KLIA. “Beroperasinya skytrain jelas akan meningkatkan standar pelayanan dan membuat daya saing Bandara Soekarno-Hatta meningkat untuk dapat berkompetisi dengan bandara-bandara terbaik dunia,” kata Dirut PT AP II, Muhammad Awaluddin bulan Agustus 2017 lalu, seperti dilansir Kompas.

Pada tahap awal, skytrain Bandara Soetta akan melayani rute yang menghubungkan Terminal 2 dan Terminal 3. Seperti diketahui, sebelum disediakan skytrain, para pengguna jasa di Bandara Soetta terpaksa memakai kendaraan pribadi atau shelter ketika hendak berpindah terminal. Pasalnya jarak antar terminal di Bandara Soetta cukup jauh.

Usai tahap pertama dioperasikan, skytrain nantinya juga akan beroperasi untuk melayani perpindahan ke Terminal 1, Integrated Building, kemudian berlanjut ke Terminal 3. Skytrain memiliki jarak antar kedatangan maksimal 5 menit dengan waktu tempuh untuk mengelilingi seluruh terminal dan Integrated Building sekitar 7 menit.

Bandara Soekarno Hatta Tangerang

Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta – phinemo.com

Fasilitas Skytrain yang ada di Bandara Soetta diproduksi oleh Korea Selatan dan terdiri dari 3 rangkaian kereta. Satu rangkaian kereta terdiri dari 2 kereta yang tiap rangkaian berkapasitas 176 penumpang. Seperti halnya fasilitas skytrain yang ada di KLIA maupun Changi, interior Skytrain di Bandara Soetta memberikan ruang lebih banyak bagi para penumpang untuk berdiri. Desain semacam itu sengaja dibuat karena perjalanan skytrain tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama.

Pada tahap awal beroperasi, Skytrain masih akan dikemudikan oleh masinis selama 6 bulan untuk kemudian dioperasikan secara otomatis tanpa pengemudi. Hal ini dilakukan dalam rangka sinkronisasi sistem. Skytrain hanya beroperasi melayani perpindahan penumpang pada jam-jam tertentu saja, yakni pukul 07.00-10.00 WIB, 13.00-14.00 WIB, dan 17.00-19.00 WIB. “Ini akan kami terapkan sampai akhir tahun (2017), baru bisa beroperasi secara penuh,” ungkap Public Relation Manager PT Angkasa Pura II Yado Yarismano.

Beralih ke Kuala Lumpur International Airport/KLIA, bandar udara milik Negeri Jiran yang berlokasi di Sepang, Selangor, Malaysia Barat ini dibuka pada tahun 1998 silam dan pembangunannya menghabiskan dana sekitar USD 3,5 miliar. Bandara yang merupakan pangkalan untuk Malaysia Airlines dan Air Asia ini termasuk peringkat ke-14 bandara tersibuk di dunia menurut lalu lintas penumpang internasional karena hingga tahun 2011 KLIA berhasil mencatatkan 25.915.723 penumpang. Jika dibandingkan dengan Indonesia pada masa yang sama, Bandara Soetta baru berhasil kedatangan 7 juta wisatawan.

KLIA sendiri dirancang untuk menampung hingga 130 juta penumpang per tahun. Bandara Kuala Lumpur memiliki luas landasan pacu dan bangunan sekitar 100 km persegi dan secara teori bisa menampung 100 pergerakan penerbangan kapan saja. Bandara satu ini juga disebut-sebut sebagai bandara pertama yang menggunakan Total Airport Management System (TAMS).

Dari segi fasilitas penunjang, KLIA memiliki sederet sarana dan prasarana yang membuatnya layak dijadikan tempat transit wisatawan dari berbagai negara. Mulai dari banyaknya pintu check in hingga area pertokoan. Tak tanggung-tanggung, ada toko mainan, toko penjual cokelat, resto cepat saji (fast food), minuman, dan sebagainya.

KLIA memiliki 2 menara pengendali lalu lintas udara yang meliputi menara pengendali utama dan menara pengendali landasan. Tinggi menari pengendali utama mencapai 130 meter dan menjadi menara pengendali lalu lintas udara tertinggi kedua di dunia usai menara pengendali Bandara Internasional Bangkok.

Meski secara teknis KLIA lebih unggul dari Bandara Soekarno-Hatta, namun Bandara Soekarno-Hatta vs KLIA tidak kalah dari segi fasilitas. Apalagi dengan dioperasikannya Kereta Api Bandara Soetta belum lama ini, tentunya mobilitas masyarakat dari dan ke Bandara Soetta pun menjadi lebih mudah dan cepat.

Fasilitas KA Bandara Soetta baru dibuka untuk umum pada Selasa (26/12) kemarin dan mematok tarif promo sebesar Rp 30 ribu. Pada tahap awal beroperasi, KA Bandara Soetta akan melayani penumpang dari 3 stasiun, yaitu Stasiun Sudirman Baru (BNI City), Stasiun Batu Ceper, dan Stasiun Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jika sudah beroperasi secara penuh, KA Bandara Soetta melalui  rute Stasiun Manggarai – Stasiun Sudirman baru (BNI City) – Stasiun Duri – Stasiun Batu Ceper – Stasiun Soekarno-Hatta, dan demikian sebaliknya dari arah bandara.