Angkasa Pura II Genjot Pendapatan dari Sektor Bisnis Non Aero

Jakarta – PT (AP) II kini terus berusaha untuk menggenjot angka pendapatan dengan menyasar non aero. Tahun 2018 lalu saja di sektor non aero mampu menyumbang sekitar 36% untuk pendapatan atau sekitar Rp3,4 triliun dari pendapatan AP II sepanjang tahun lalu yang mencapai Rp9,4 triliun.

Muhammad Awaluddin, Direktur Angkasa Pura II - ekbis.rmol.co

Muhammad Awaluddin, Direktur Angkasa Pura II – ekbis.rmol.co

Menurut Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, saat ini industri transportasi udara cukup dinamis. Oleh sebab itu pihaknya berupaya melakukan sejumlah inovasi yang dapat menarik pendapatan dari berbagai sektor selain aeronautical. “Maka sejak 2019, kita mulai sosialisasikan dua konsep revenue stream yaitu core yang memang dalam keseharian kita bergantung pada aero dan kargo, dan kita kembangkan juga konsep bisnis yang beyond core,” jelas Awaluddin di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kontribusi bisnis non aero tahun ini diharapkan dapat mencapai 42%. Salah satu upaya yang dilakukan AP II untuk menggenjot bisnis non aero adalah dengan melakukan diversifikasi dan pengembangan non organik seperti hotel, parkiran, dan lain-lain. Dalam mengelola bisnis itu, manajemen AP II memiliki anak perusahaan seperti Angkasa Pura Kargo, Angkasa Pura Solusi, Angkasa Pura Properti, Angkasa Pura Aviasi hingga Angkasa Pura Integral.

Ferry Utameyasa, Aeronautical Senior Manager PT Angkasa Pura II (persero) menambahkan, salah satu yang dilakukan adalah dengan menyewakan lahan di bandar udara untuk jasa pendukung kegiatan penerbangan. Misalnya penyediaan lahan untuk bisnis maintenance, repair dan overhaul (MRO) di bandara-bandara yang berada di bawah pengelolaan AP II.

“Jangan hanya melihat , kami juga punya bandara lain seperti Kualanamu, Minangkabau, di Kalimantan juga punya. Kami sebenarnya ingin dan sudah tawarkan itu kepada perusahaan MRO, jadi kembali lagi keputusan ada di tangan mereka,” kata Ferry, Selasa (29/10), seperti dilansir Kontan.

AP II pun akan melakukan perpanjangan kontrak dengan perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Lithuania untuk sewa lahan yang digunakan sebagai hanggar pesawat selama 20 tahun ke depan. PMA tersebut juga hendak ekspansi perluasan 10.000 m2 di sebelah hanggar eksisting. “Kontribusinya yang pasti kami ada pendapatan dari sewa, ini kan mereka sewa lahan, bayar dan ada konsesi di sana,” ucapnya.