Penampilan Suku Kamoro Curi Perhatian Turis Asing di Terminal 3 Bandara Soetta

Tangerang – Belum lama ini suasana , Tangerang, Banten disemarakkan oleh penampilan dan atraksi tarian bagian Timur, yakni Suku Kamoro. Setidaknya ada 9 warga Suku Kamoro asal Kabupaten Mimika, Papua yang unjuk kebolehan di Bandara Soetta.

Warga Suku asli Kamoro asal Kabupaten Mimika di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta - jakarta.tribunnews.com

Warga Suku asli Kamoro asal Kabupaten Mimika di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta – jakarta.tribunnews.com

Orang-orang asli Suku Kamoro tersebut sengaja dihadirkan untuk menyapa, menari, dan memamerkan hasil kerajinan berupa anyaman dan pahatan asli dari Merauke. Hasil karya tetua dari kampung halaman mereka sengaja dibawa untuk dijadikan cendera mata.

Warga Suku Kamoro tersebut tampil dalam balutan busana khas Papua dengan tapena, rumbai-rumbai yang menutupi bagian bawah sampai lutut, kemudian wajah dan seluruh badan mereka dihiasi tinta putih, serta tak lupa memakai penutup kepala layaknya seorang kesatria.

Kehadiran dan penampilan Suku Kamoro ini menyedot perhatian para pengunjung di Bandara Soetta. Terutama para turis mancanegara yang hendak kembali ke negara asalnya biasanya akan menyempatkan diri untuk mampir ke booth yang menampilkan karya seni Suku Kamoro.

Para tetua Suku Kamoro tersebut tampil membawakan nyanyian serta tarian roh. Menurut Ketua Yayasan Maramowe Weiku, Herman Kiripi, tarian roh tersebut di Mimika biasanya ditampilkan dalam setiap pesta, sejenis inisiasi. “Penuh dengan filosofi dan sejarah Kamoro di zaman dulu, dulu mereka yang bercerai-berai, kini bersatu,” jelas Herman, seperti dilansir Liputan 6.

Kemudian para warga Suku Kamoro terlihat memukul tifa berkali-kali yang di tempat asalnya sana dimaksudkan sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan semua masyarakat Suku Kamoro. Sementara itu saat berada di Terminal 3 mereka memakainya untuk mengiringi tarian. Tarian yang ditampilkan adalah Tarian Pergaulan.

Ketika melakukan Tarian Pergaulan, ada beberapa turis asing hingga petugas bandara yang diajak ikut menari di lingkaran yang dibentuk oleh para bapak Suku Kamoro. “Cukup mudah, ikuti gerakan Tifa saja, lari kecil-kecil, berputar, dan menarilah, berdendang mengikuti irama,” bebernya.

Apabila yang ikut menari semakin banyak, maka lingkaran yang dibuat pun akan semakin besar. “Ya kami semua suku asli dari Indonesia Timur berharap semakin banyak yang mengenal terutama warga Indonesia sendiri. Bahwa kami ada,” tandasnya.