Pemeliharaan Skytrain di Bandara Soetta, Angkasa Pura II Gaet PT LEN

Nusa Dua – PT Angkasa Pura (AP) II menjalin kerja sama PT LEN Industri dalam hal pengoperasian dan pemeliharaan Automated People Mover System (APMS) atau layang () Internasional , Tangerang, Banten. Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua belah pihak ini dilangsungkan di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (11/10) lalu.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Pengoperasian dan Pemeliharaan Automated People Mover System (APMS) yang dilakukan oleh Presiden Direktur PT (Persero) Muhammad Awaluddin (kedua kanan) dengan Direktur Utama PT LEN Industri (Persero) Zakky Gamal Yasin (kedua kiri) di Nusa Dua, Bali – tempo.co

Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin dan Direktur Utama PT LEN Zakky Gamal Yasin serta disaksikan oleh Menteri Negara BUMN Rini Soemarno dan Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo.

Awaluddin menjelaskan bahwa kerja sama ini penting untuk menjaga kualitas dan kesinambungan layanan APMS di Bandara . Fasilitas APMS tersebut tersedia di 4 shelter, yaitu Terminal 1, Terminal 2, Terminal 3, dan Kereta Bandara serta sudah beroperasi sejak September 2017 lalu. “PT LEN kita pilih, selain sesama BUMN, perusahaan ini juga memiliki keahlian dan sudah punya pengalaman untuk melakukan pengelolaan kereta,” beber Awaluddin.

Sementara itu, Zakky mengatakan jika kereta layang Bandara Soetta merupakan moda kereta yang tercanggih di Indonesia saat ini. “Dari sisi teknologi PT LEN Industri sudah berkecimpung di sektor persinyalan kereta api dua selama puluh tahunan. Sebelumnya kita mengerjakan proyek-proyek terkait mengganti sistem sinyal mekanik ke elektronik. Untuk ke depannya, yang paling penting bagaimana moda kereta ini berumur panjang dan beroperasi sesuai dengan yang dipersyaratkan. Di sinilah PT LEN berkontribusi untuk perawatan dan pengoperasiannya,” jelas Zakky.

Lebih lanjut Zakky menjelaskan bahwa ada perbedaan yang nyata antara skytrain dengan kereta konvensional. Skytrain adalah moda berbasis kereta yang dioperasikan secara otomatis melalui data digital serta diawasi operation control center (OCC). Skytrain juga bisa beroperasi tanpa awak atau driverless.

“Kereta konvensional tidak ada integrated-nya antara kereta, trek, dan stasiun. Sementara, pada LRT dan skytrain, antara kereta, stasiun, dan trek ada koneksinya. Jadi kita bisa kirim instruksi dan data dari occ room ke kereta, tanpa masinis,” tandas Zakky.