Pasca Beroperasi Secara Resmi, Grab Layani 3.000 Perjalanan di Bandara Setiap Hari

Jakarta – Sejak melayani 4 bandar udara di Indonesia seperti , Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara (Bandung), dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, (Palembang), online Grab rupanya mengklaim pihaknya telah melayani 3.000 perjalanan ke bandara tiap harinya.

Ongki Kurniawan, Executive Director Grab Indonesia - www.marketing-interactive.com

Ongki Kurniawan, Executive Director Grab Indonesia – www.marketing-interactive.com

“Sekarang kami ada 3.000 lebih perjalanan per hari di bandara,” kata Executive Director Grab Indonesia Ongki Kurniawan, Selasa (27/11), seperti dilansir CNBCIndonesia. Ongki menambahkan, jumlah perjalanan keseluruhan yang dilakukan oleh Grab bersama mitra pengemudi di kawasan Asia Tenggara bahkan sudah melebihi 2,5 miliar perjalanan. Setiap harinya Grab mempunyai 5,5 juta perjalanan atau 65 perjalanan per detik.

“Kami memiliki hampir 65% market share untuk transportasi dan kami terus memperkuat keberadaan kami di Indonesia,” beber Ongki.

Demi memperluas cakupan bisnisnya di Tanah Air, Grab pun mengaku akan terus meningkatkan perjalanan ke bandara dengan menjajaki kerjasama dengan bandara lain seperti Bandara Adi Soemarmo, Solo. Lewat kerja sama tersebut, Grab dapat beroperasi secara resmi seperti taksi dan moda transportasi lainnya. “Sekarang kami kembangkan juga di bandara Halim, di Husein Sastranegara Bandung, dan nanti kami sedang upayakan akan bisa beroperasi di Bandara Solo,” papar Ongki.

Di sejumlah bandara yang telah menjalin kerja sama, Grab menyediakan titik penjemputan (pick up point) yang memadai dan legal di sekitar pintu keluar kedatangan. Khusus di Bandara Soetta, Tangerang, Banten, layanan GrabCar tersedia di Terminal 1A, 1B, 1C, 2D, 2F, dan Terminal 3 (domestik dan internasional).

Dengan adanya titik penjemputan yang aman dan legal tersebut, para pengemudi dan Grab pun tak perlu lagi main kucing-kucingan atau mengangkut secara sembunyi-sembunyi. Seperti diketahui, sebelumnya sejumlah petugas keamanan memang melarang transportasi online untuk beroperasi di sejumlah bandara, terutama untuk menjemput . Padahal jumlah yang membutuhkan moda transportasi berbasis aplikasi untuk mengantar dan menjemput di bandara cukup banyak.