Okupansi Cuma 26%, KA Bandara Soekarno-Hatta Diusulkan Pasang Diskon

JAKARTA – Keberadaan Internasional ternyata belum menarik minat masyarakat untuk menggunakan layanan tersebut. Sepanjang tahun 2018 kemarin, tingkat okupasi KA Soekarno-Hatta hanya 26 persen. Karena itu, PT Api Indonesia () pun mengusulkan ada pada momen-momen tertentu.

Suasana penumpang KA Bandara Soekarno-Hatta

Suasana KA Bandara Soekarno-Hatta – www.medcom.id

“Tingkat keterisian KA Bandara Soekarno-Hatta jauh dari harapan. Dalam studi kami, okupansi hanya 26 persen, dari ideal ketersediaan itu adalah 60 persen,” ujar Peneliti Institut Studi Transportasi, Deddy Herlambang, dilansir Warta Ekonomi. “Ada beberapa alasan mengapa kereta ini kurang diminati, salah satunya lemahnya perencanaan makro dan mikro sehingga kurang terintegrasi dengan transportasi lainnya.”

Deddy menambahkan, diperlukan konsep integrasi satu simpul terminal untuk koneksitas antar-moda yang saling menguntungkan antara perkeretaapian, darat, dan udara di dalam kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Dalam hal ini, transportasi kereta api tidak dapat berdiri sendiri dalam melayani pengguna bila ingin okupansi pengguna bertambah.

Sementara itu, Direktur PT KAI, Edi Sukmoro, menuturkan bahwa okupansi kereta Bandara Soekarno-Hatta yang rendah disebabkan belum siapnya Manggarai untuk melayani penumpang. Ia mengatakan bahwa saat ini pihak operator terus mencari jalan lain agar KA Bandara Soekarno-Hatta bisa dipenuhi penumpang, semisal perpanjangan rute yang telah dilakukan hingga ke Bekasi.

“Kemudian, dipikirkan lagi nanti diberangkatkan dari Jakarta Kota. Karena, memang yang awalnya direncanakan berangkat dari Manggarai, tetapi belum selesai dikerjakan,” kata Edi. “Kita terus mencari solusi. Sekarang sudah mulai meningkat karena jam-jamnya sudah kita ubah. Tetapi, pastinya kita berupaya supaya KA Bandara ini juga disukai dan diminati.”

Pihaknya sendiri mengusulkan agar pihak operator (PT Railink) bisa mempromosikan KA Bandara Soekarno-Hatta melalui adanya diskon tarif. Menurutnya, barangkali pihak operator bisa mempertimbangkan ada diskon di hari-hari khusus. “Jadi, pihak operator tidak melulu menargetkan tarif penumpang,” tambah Edi.