Menhub Minta Tarif Kereta Bandara Soetta Tetap Rp 70 Ribu Sampai Akhir 2018

Jakarta – Direktorat Jenderal Perkeretaapian akan mengkaji yang saat ini berada di angka Rp 70 ribu. Ke depannya, tarif KA Bandara Soetta akan disamakan dengan tarif KA Bandara Kualanamu Medan sebesar Rp 100 ribu.

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri - beritatrans.com

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri – beritatrans.com

Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri, walaupun tarif sudah menjadi bagian dari PT Railink selaku anak perusahaan milik PT KAI dan PT Angkasa Pura II, pihaknya berencana untuk mengevaluasi tarif KA Bandara Soetta supaya sesuai dengan kemampuan masyarakat. “Karena komersial bukan pemerintah yang menentukan tarif, murni bisnis untuk menciptakan sumber-sumber pendapatan untuk menutup operasional tadi,” jelas Zulfikri di Jakarta, Jumat (5/1), seperti dilansir Republika.

Berdasar studi kelaikan, tarif KA Bandara Soetta memang dipatok Rp 100 ribu. Namun pemerintah setuju untuk menerapkan tarif promo sebesar Rp 30 ribu pada masa uji coba dan saat ini berlaku tarif Rp 70 ribu. “Nanti kita evaluasi, tapi yang jelas saya katakan itu memang pelayanan komersial dan itu ditentukan oleh operator sebenarnya. Kita hanya menentukan batas atas, batas bawah saja,” tutur Zulfikri.

Meski demikian, Zulfikri mengaku tak menutup kemungkinan jika KA Bandara Soetta akan memperoleh subsidi dari pemerintah. “Kita lihat ya kita evaluasi lagi karena seperti KRL Jabodebek ‘kan akhirnya kita subsidi juga yang tadinya enggak mungkin. Selama ini subsidi kita hanya PSO dan perintis yang punya kriteria tersendiri sebetulnya perintis itu seperti apa, pelayanan KA seperti apa, PSO juga pelayanan KA seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyarankan agar PT Railink tak menaikkan tarif KA Bandara Soetta dari Rp 70 ribu menjadi Rp 100 ribu hingga akhir tahun 2018. Awalnya Railink berencana menaikkan tarif menjadi Rp 100 ribu sekitar bulan Maret 2018.

“Kita lihat ya kita evaluasi lagi karena seperti KRL Jabodebek ‘kan akhirnya kita subsidi juga yang tadinya enggak mungkin. Selama ini subsidi kita hanya PSO dan perintis yang punya kriteria tersendiri sebetulnya perintis itu seperti apa, pelayan KA seperti apa, PSO juga pelayanan KA seperti apa,” kata Budi.

Budi meminta agar Railink dapat memanfaatkan sejumlah hal untuk meraup pendapatan, misalnya dengan menjaring sponsor. “Kan mereka income banyak yang selama ini belum dihitung. Contohnya sponsorship. Terus di jalan-jalan itu kan banyak sekali tempat-tempat kosong, (bisa digunakan) bikin iklan,” tandasnya.