Menhub Minta Slot Time Internasional di Bandara Soetta & Ngurah Rai Diperbanyak

Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan bahwa saat ini dalam di Indonesia masih sebesar 23% atau 19,78 juta dari total 89 juta penumpang. Menurut Budi, rendahnya penumpang internasional ini mengindikasikan bahwa Indonesia belum cukup menarik minat wisatawan mancanegara.

Budi Karya Sumadi - indo-aviation.com

Budi Karya Sumadi – indo-aviation.com

“Dari komposisi 20% ini juga lebih banyak diwakili dari dua bandara saja, yakni Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) dan Bali (Bandara Ngurah Rai). Oleh karena itu, tugas kita untuk menaikkan itu sangat banyak. Kita menargetkan itu komposisi luar negeri kita 30 persen dari total penumpang di 2019,” ujar Budi di Jakarta, Senin (20/2).

Untuk tahun ini Budi menargetkan porsi penumpang internasional sekitar 25%. Akan tetapi, kebijakan memberi insentif untuk penerbangan internasional seperti potongan biaya mendarat (landing) tidak begitu efektif, oleh karena itu kebijakan tersebut akan dievaluasi.

“Sejak saya di Angkasa Pura II itu sudah dilakukan, tapi menjadi pertanyaan mengapa tidak menarik, bisa jadi paketnya atau kota-kotanya kurang menarik, karena itu kita akan evaluasi ini,” paparnya.

Oleh sebab itu, Budi meminta Direktorat Perhubungan Udara dan operator bandara untuk mengalokasikan waktu alokasi terbang (slot time) lebih banyak untuk rute internasional, terutama Bandara Soetta dan Bandara Ngurah Rai.

Budi berpendapat bahwa slot rute internasional perlu diperbanyak karena kapasitasnya saat ini, khususnya di Bandara Soetta masih terbatas 72 pergerakan per jam. “Oleh karena itu, Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II harus melakukan suatu reformasi terkait ruang slot yang ada dengan mengurangi slot-slot yang kurang penting, dan memberikan ruang bagi slot internasional untuk masuk,” kata Budi.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata Arief Yahya juga mendukung upaya Kemenhub dengan meningkatkan kerjasama layanan angkutan udara, navigasi udara dan bandara, serta stimulus untuk pembukaan rute baru.

“Operator bandara ini kurang agresif mengembangkan bandara, di sisi lain memang bagus ‘load factor’ (tingkat keterisian) meningkat, tapi kapasitas semakin berkurang untuk menampung wisatawan,” ucap Arief.

Arief Yahya pun meminta tambahan 4 juta kursi penerbangan untuk tahun ini supaya tercapai target kunjungan 15 juta wisman, untuk 2018 tambahan 3 juta kursi, tahun 2019 3,5 juta kursi, sehingga pada 2019 diharapkan dapat memenuhi target 10,5 juta tambahan wisman.