Kontroversial, Kata ‘Ultimate’ tak jadi digunakan pada Terminal 3 Bandara Soetta

Tangerang – selaku pengelola Soekarno Hatta memutuskan untuk membatalkan penggunaan kata ‘ultimate’ di belakang nama yang baru. Hingga kini, belum terungkap apa alasan di balik pembatalan nama Ultimate yang sering digambar-gemborkan tersebut.

terminal 3 bandara soekarno hatta - megapolitan.kompas.com

terminal 3 bandara soekarno hatta – megapolitan.kompas.com

“Kami tegaskan di Bandara Internasional saat ini hanya terdapat Terminal 1, 2, dan 3,” kata Agus Haryadi, Head of Corporate Secretary & Legal PT Angkasa Pura II, dalam keterangan resminya, Rabu (23/6) .

Agus menjelaskan, nama ‘ultimate’ sebelumnya dipilih agar masyarakat dapat membedakan terminal 3 yang baru dengan yang sudah ada (Terminal 3 Existing).

“Arti dari kata ultimate itu sendiri adalah bahwa pengembangan yang dilakukan di Terminal 3 kali ini sudah paling maksimal, tidak bisa lebih dari yang sudah berdiri saat ini.” lanjutnya.

Sebelum akhirnya dihapus, penggunaan kata ‘ultimate’ di belakang nama Terminal 3 telah menuai sejumlah kontroversi, salah satunya mengundang kritik yang datang dari Anggota Komisi X DPR Mustafa Kamal. Mustafa menilai, segala aktifitas perdagangan harus menggunakan bahasa Indonesia, tapi ada bandara yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia.

Ia menambahkan, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 mengenai Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

“Kita sudah punya UU penggunaan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang digunakan di wilayah Indonesia,” ujar politisi PKS ini.

Salah satu pertimbangan dikeluarkannya Undang-Undang tersebut adalah bahwa bendera, bahasa dan lambang negara serta lagu kebangsaaan merupakan sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara.