Jakarta-Surabaya via Bandara Soetta Masuk 10 Besar Rute Tersibuk

JAKARTA – Sebagai ibukota Indonesia dan memiliki pelabuhan udara bertaraf , , tidak mengherankan jika kemudian Jakarta masuk dalam 10 besar tersibuk dan paling berkembang sepanjang tahun 2017 kemarin. Jika Jakarta-Singapura dinobatkan sebagai internasional tersibuk nomor 2, maka Jakarta-Surabaya adalah tersibuk nomor 9.

Terminal 3 Bandara Soekarno-hatta – www.idntimes.com

Menurut penelitian yang dilakukan oleh jaringan Routes yang berbasis di Inggris, AS memang masih memiliki pasar terbesar di dunia. Namun, dari penerbangan OAG Schedules Analyser dan jumlah penumpang tahun 2017 dari Sabre Market Intelligence untuk melihat 500 rute penerbangan tersibuk di dunia, wilayah Asia Pasifik yang mendominasi rute perjalanan udara paling populer.

Rute penerbangan sejauh 280 mil atau 450 km dari Bandara Internasional Gimpo di Seoul ke Pulau Jeju adalah rute paling sibuk, dengan total ada 13.460.305 penumpang yang menempuh perjalanan itu sepanjang tahun 2017 lalu. Penerbangan ke Pulau Jeju dari Kota Seoul memilih selisih 4 juta penumpang dari rute penerbangan tersibuk kedua di dunia, yaitu dari Melbourne ke Bandara Internasional Kingsford di Sidney dengan 9.090.941 penumpang.

Di daftar 10 besar rute penerbangan tersibuk, Indonesia ternyata mengirim wakil. Adalah rute Jakarta-Surabaya yang menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta dengan Bandara Internasional Juanda dengan jumlah penumpang mencapai 5.271.304 penumpang sepanjang tahun 2017 lalu, atau menempati posisi kesembilan di atas rute Bandara Haneda Tokyo ke Okinawa dengan jumlah 5.269.481 penumpang.

Selain sebagai rute penerbangan tersibuk, Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) juga termasuk sebagai rute paling berkembang nomor 3 dan nomor 9 di seluruh dunia. Rute dari Jakarta menuju Kuala Lumpur menempati posisi ketiga dengan angka pertumbuhan tahunan 29,4 persen, sedangkan rute dari Jakarta ke Kualanamu menempati posisi kesembilan dengan angka pertumbuhan 13,9 persen secara tahunan.

“Maskapai penerbangan di Asia Pasifik memegang pangsa pasar penerbangan, dengan tahun 2017 lalu misalnya, berhasil mengangkut 1,5 miliar penumpang atau sekitar 36,3 persen dari pangsa pasar penerbangan,” jelas IATA. “Di tahun 2000, jumlah seseorang rata-rata terbang hanya sekali setiap 43 bulan, sedangkan di tahun 2017 menjadi sekali setiap 22 bulan.”