Gara-Gara Harga Tiket Pesawat Mahal, Jumlah Penumpang Turun 9,75%

Jakarta – Mahalnya dalam periode high season, tepatnya saat libur Natal dan Tahun Baru beberapa waktu lalu rupanya telah mengakibatkan pesawat pada Desember 2018 lalu menurun. Bahkan penurunan tersebut kabarnya cukup signifikan hingga 9,75% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Alvin Lie, Anggota Ombudsman - www.republika.co.id

Alvin Lie, Anggota Ombudsman – www.republika.co.id

Menurut Anggota Ombudsman Alvin Lie, bukan hanya harga tiket yang mahal, tetapi dibangunnya Tol Trans Jawa ternyata juga turut mempengaruhi jumlah penumpang. Padahal target pertumbuhan penumpang mencapai angka 10%.

“Pada bulan Desember kemarin ini terjadi penurunan jumlah pengguna pesawat terbang secara nasional turun 9,75 persen dibanding Desember 2017, ini cukup signifikan karena untuk setahun pertumbuhan jumlah penumpang rata-rata 10 persen. Desember malah turun,” ujar Alvin Lie di Jakarta Pusat, Selasa (15/1), seperti dilansir Liputan6.

Oleh sebab itu Alvin meminta pihak maskapai penerbangan untuk mengkaji penurunan jumlah penumpang yang cukup signifikan tersebut. “Enam bandara besar misal Soekarno-Hatta, Juanda, (penumpang) turun 13,43 persen. Pergerakan pesawat turun 5,56 persen. Jumlah penerbangan turun karena penumpang turun,” papar Alvin.

Kemudian ada juga Bandara Ngurah Rai, Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Kualanamu, dan Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman disebutkan mengalami penurunan penumpang hingga 14%. Penurunan jumlah penumpang ini diakuinya sangat mempengaruhi arus keuangan maskapai.

Menurut Alvin, salah satu alasan mengapa penumpang pesawat menurun adalah karena tersedianya alternatif moda transportasi lainnya, misalnya saja penumpang penerbangan Semarang-Surabaya yang menurun saat adanya jalan tol. “Tol trans Jawa berpengaruh pada peta industri penerbangan. Rute Jakarta-Semarang, Yogyakarta-Solo dapat saingan. Kalau lewat darat, Cikampek-Surabaya di bawah enam jam, Cirebon-Semarang 2 jam,” bebernya.

Situasi itu pula yang membuatnya beranggapan bahwa maskapai perlu berinovasi. “Ini putar otak maskapai. Aceh-Jakarta lebih mahal dari Aceh-Kuala Lumpur-Jakarta. Kan penerbangan internasional tidak ada pajak,” ucap Alvin.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Airlines (GIA), I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) juga mengatakan hal yang senada. Ari menuturkan jika penjualan tiket pesawat mengalami penurunan yang cukup signifikan. “Kenaikan penjualan flat karena tadi disampaikan desember 2018 itu turun,” katanya.

Namun sejak harga tiket pesawat kembali diturunkan beberapa waktu lalu, penjualan tiket pun dilaporkan meningkat meskipun kenaikannya tidak terlalu signifikan karena sudah memasuki low season. “Sekitar 10 persen. Tidak terlalu tinggi karena ini masuk low season,” pungkasnya.