Di Tengah Sepinya Penumpang, Angkasa Pura II Kembangkan Bisnis Inorganic

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) II saat ini berupaya untuk menggenjot sumber pendapatan lewat sektor bisnis lain guna mengantisipasi imbas dari penurunan dan pergerakan . Selain itu, AP II juga berusaha memperbaiki infrastruktur dan guna membuat para semakin nyaman untuk melakukan di 16 yang berada di bawah pengelolaannya, termasuk , Tangerang, Banten.

Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II - www.medcom.id

Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II – www.medcom.id

“Salah satunya melakukan inovasi bisnis-bisnis baru. Kami menyebutnya in organik baru,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, Kamis (9/5), seperti dilansir Tempo. “Kita bisa melakukan revitalisasi pada Terminal 1 dan 2, saat low season ini, serta penambahan layanan khususnya, layanan digital jelang era revolusi digitalisasi,” sambung Awaluddin.

Awaluddin sendiri mengakui bahwa AP II tak dapat mengandalkan pendapatan hanya dari core business saja, namun juga harus mencari dukungan dari sisi lain bisnis utama. “Mencari alternatif dari bisnis-bisnis baru dengan tidak mengandalkan core bisnis,” papar Awaluddin. “Bandara tidak bisa seperti dua tiga tahun lalu, di mana support revenue-nya hanya dari core saja alias pergerakan penumpang atau pesawat,” tuturnya.

Ada berbagai langkah strategis yang diupayakan oleh BUMN satu ini, misalnya saja dengan memaksimalkan digital bisnis dan perluasan bisnis non aero. “Salah satunya mengintegrasikan bisnis ground handling,” jelas Awaluddin.

Pasalnya, sebelumnya ground handling di bandara belum terkoneksi dengan AP II. Namun sekarang telah terintegrasi dengan operator bandara. “Yang berbeda adalah sinergi value-nya jadi lebih besar. Sehingga kami bisa menawarkan produk jasa baru dari perluasan portofolio perusahaan,” ungkap Awaluddin.

Di samping itu, AP II juga menyediakan airport lounge digital di setiap terminal, fasilitas sewa power bank berbayar, hingga layanan golf car. Jika dulu golf car hanya sebatas fasilitas, maka kini bisa diolah menjadi on demand. “Di luar negeri itu biasa saja, ketika golf car berbayar, pelanggan bisnis justru minta dilayani golf car dan dia mau dibayar. Nah, di sini, layanannya enggak boleh manual dan harus digital, di mana setiap petugas bandara disediakan gadget untuk hal itu,” bebernya.

Dengan bisnis in organic ini, AP II memiliki target pendapatan lebih besar dari bisnis-bisnis organiknya. “Jadi, kalau ditanya berapa besaran revenue itu sekarang, kami cukup berani memasang target dengan cara in organic bisnis itu kurang lebih Rp 500 miliar. Dulu enggak ada target itu, sekarang dari berbagai program yang kita lihat memiliki peluang dalam konteks bisnis. Bukan berarti, kita enggak concern ada penurunan traffic. Tetapi, memang itu core kita, dan kita enggak bisa berdiam diri sekedar menumpukan di core saja,” tandasnya.