Angkasa Pura II Perluas Bisnis ke Sektor EBT & Fasilitas Kesehatan

Jakarta (AP) II selaku pengelola 19 bandar udara di Indonesia kini memperluas portofolio bisnisnya ke sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) dan kesehatan untuk mendukung inti perseroan. Strategi ini disebut sebagai upaya AP II dalam mengimplementasikan business survival initiatives di tengah pandemi virus corona (Covid-19) dan optimalisasi mencari peluang.

Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II - bisnisjakarta.co.id

Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II – bisnisjakarta.co.id

Menurut Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin, perluasan portofolio ke EBT dan fasilitas kesehatan ini adalah upaya untuk masuk ke bisnis yang menjanjikan di masa depan. Selama pandemi ini, pihak AP II juga berusaha untuk menjaga dan meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis non aeronautika dengan memperluas portofolio.

“Saat ini bisnis aeronautika perlahan sudah mengalami peningkatan sejalan dengan naiknya lalu lintas penerbangan, namun masih di bawah kondisi normal,” ujar Awaluddin, Jumat (23/10), seperti dilansir Medcom.

Sejalan dengan perluasan portofolio bisnis tersebut, pada tanggal 22 Oktober 2020 lalu AP II menandatangani MoU dengan Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM tentang Penerapan Konservasi Energi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan Secara Berkelanjutan Pada Bandar Udara.

Awaluddin menjelaskan, lewat MoU atau nota kesepahaman tersebut pembahasan lebih intensif dilakukan dengan Ditjen EBTKE untuk penerapan energi baru terbarukan di 19 yang dikelola oleh perseroan. Kedua belah pihak nantinya dapat melakukan penelitian, pertukaran informasi dan pengembangan terkait konservasi energi di bandara, pemanfaatan EBT di bandara, peningkatan efisiensi energi, serta manajemen energi dan kontribusi penurunan emisi gas.

“Kami memohon bantuan dari Ditjen EBTKE untuk membuat konsep energy management dalam rangka mewujudkan green airport di bandara PT Angkasa Pura II. Untuk pilot project akan dilakukan di Bandara Banyuwangi, Jawa Timur, karena di sana pembangunannya sudah mengadopsi ke arah green airport,” kata Awaluddin.

“Di dalam 2 tahun mendatang, kami menargetkan penggunaan EBT di bandara-bandara PT Angkasa Pura II dapat mencapai 10% dari total penggunaan. Misalnya, saat ini suplai listrik ke Bandara sebesar 65 megawatt dan pada 2 tahun mendatang kami menargetkan suplai dari EBT bisa menggantikan 6,5 megawatt suplai tersebut,” tandasnya.