Bandara Soetta Waspadai Cuaca Ekstrem & Erupsi Gunung Anak Krakatau

Jakarta – Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhamad Awaluddin mengimbau para jajarannya untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada akhir tahun 2018, terutama berkaitan dengan kelancaran proses dan kedatangan , khususnya di , Tangerang, Banten.

Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) - solo.tribunnews.com

Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) – solo.tribunnews.com

“Sampai saat ini pun kondisi khususnya di Bandara Soekarno Hatta berjalan lancar, tapi kita tetap harus siaga dengan cuaca ekstrim ini, terutama munculnya erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar Awaluddin di Posko Terpadu Terminal 1 Bandara Soetta, Tangerang, Rabu (26/12), seperti dilansir Viva.

Di samping itu, Awaluddin pun meminta jajaran PT Angkasa Pura (AP) II dan pihak maskapai untuk mewaspadai angin kencang dan hujan deras yang sebelumnya sempat mengakibatkan terjadinya pengalihan penerbangan di Bandara Soetta. “Harus melakukan koordinasi yang baik terutama dengan Airnav, mereka harus terus mengabarkan kondisi terkini, baik itu terkait cuaca ataupun kondisi Gunung Anak Krakatau kepada pengelola bandara dan maskapai,” ucap Awaluddin.

Menurut Awaluddin, ada hal yang sangat krusial dalam operasional bandara ketika cuaca ekstrem, yaitu terkait kelistrikan. Pasalnya beberapa hari lalu listrik di Terminal 3 Bandara Soetta sempat padam dan menghambat kegiatan penerbangan, sehingga terjadi delay atau keterlambatan pada sejumlah penerbangan. “Saya minta untuk tim betul-betul menjaga kondisi bandara, jangan sampai mati listrik, karena itu sudah fatal,” tandasnya.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan terakhir, erupsi Gunung Anak Krakatau masih belum mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Soetta. Tetapi BMKG tetap mengimbau otoritas bandara untuk menghindari penerbangan di sekitar Perairan Selat Sunda.

“Sekarang masih getaran yang berpotensi membuat longsor tebing kawah yang mulai rapuh. Caranya mendeteksi tremor atau getaran dengan sensor BMKG. Tapi aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlanjut, BMKG membaca arah angin partikel masih di dekat gunung,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Gedung BMKG, Jakarta, Rabu (26/12).

Lebih lanjut Dwikorita menjelaskan, BMKG akan melakukan pemantauan udara untuk memastikan langsung secara visual kondisi Gunung Anak Krakatau. BMKG pun ingin memastikan bahwa memang ada longsoran Gunung Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di Selat Sunda beberapa waktu lalu. Akan tetapi ia menegaskan jika hingga sekarang masih belum ada hasil dari pemantauan udara. “(Lokasi sekitar gunung) itu tertutup awan tebal, jadi belum bisa terpantau secara langsung,” ucapnya.