Bandara Soekarno-Hatta Jadi Eco-Friendly Airport, AP II Kejar ISO 50001

JAKARTA – sepertinya sangat serius menjadikan Internasional sebagai pelabuhan udara yang menerapkan konsep eco-friendly airport atau green airport. Untuk memenuhi target tersebut, merumuskan Energi guna memperoleh sertifikat global ISO 50001 untuk Bandara Soekarno-Hatta, sekaligus yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin – www.liputan6.com

Dikutip dari Republika, rumusan Sistem Manajemen Energi tersebut diupayakan PT Angkasa Pura II bersama dengan Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM dan MTR3-United Nations Development Programme (UNDP). Secara umum, institusi yang berhasil mendapat standar global ISO 50001 menandakan bahwa institusi tersebut memiliki sistem manajemen energi untuk menetapkan kebijakan energi, tujuan, target energi, rencana aksi, dan proses yang fokus pada efisiensi energi, antara lain dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT).

“Konservasi energi menjadi prioritas bagi PT Angkasa Pura II, sebagai upaya antisipasi perusahaan terhadap isu perubahan iklim global,” papar Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin. “Kami sudah memulai di Bandara Soekarno-Hatta dengan menggunakan EBT, yakni PLTS di Gedung Airport Operation Control Center [AOCC] dan taksi listrik yang dioperasikan Grab dan Blue Bird. Bandara Soekarno-Hatta ini akan menjadi point of interest untuk penggunaan energi baru dan terbarukan.”

Awaluddin menambahkan, situasi sulit di tengah pandemi Covid-19 ini memberi pembelajaran sekaligus resep baru pengelolaan bandara yang dapat menekan , salah satunya adalah Sistem Manajemen Energi sesuai ISO 50001. Sistem manajemen energi untuk Terminal 3 ini nantinya juga dapat digunakan di bandara-bandara lainnya.

Sementara itu, Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM, Luh Nyoman Puspa Dewi, mengatakan bahwa sampai saat ini, baru terdapat 113 perusahaan di Indonesia yang mendapat sertifikat global ISO 50001, yang terdiri dari 2 sertifikat diberikan ke bangunan/gedung, 64 sertifikat ke perusahaan industri, dan 47 sertifikat ke perusahaan energi. “Ini bertujuan mencapai penghematan energi dan penurunan gas rumah kaca,” katanya.