Cegah Ebola, AP II & KKP Pasang Thermal Scanner di 16 Bandara

Tangerang – PT Angkasa Pura (AP) II memasang pemindai panas (thermal scanner) di 16 yang dikelola untuk mencegah penyebaran virus Ebola masuk ke Indonesia. Upaya pencegahan ini dilakukan dengan menggandeng Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Anas Ma'ruf, Kepala KKP Kelas I Soekarno-Hatta - www.idntimes.com

Anas Ma’ruf, Kepala KKP Kelas I – www.idntimes.com

Menurut Ph. SVP of Corporate Secretary Angkasa Pura II Achmad Rifai, bandar udara adalah pintu masuk utama yang memiliki peran vital dalam menghalau masuknya virus Ebola. “Angkasa Pura II dan KKP yang berada di bawah Kementerian Kesehatan bekerja sama dalam menghalau virus Ebola sejak di bandara. Kami berharap bandara dapat berperan maksimal dalam upaya pencegahan ini,” kata Rifai, seperti dilansir Medcom.

Guna mencegah masuknya virus Ebola, pengelola Bandara Soetta, Tangerang, Banten melakukan pemeriksaan suhu panas tubuh manusia terhadap yang datang dari luar negeri. Pemeriksaan tersebut dilakukan guna mengetahui kondisi tubuh para yang melakukan perjalanan ke luar negeri dan memastikan bahwa mereka tak tertular virus Ebola. Pasalnya, virus mematikan satu ini sempat mewabah di Kongo.

Lebih lanjut Rifai memaparkan, tim penghalau virus Ebola berada langsung di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan dilaksanakan di seluruh bandara kelolaan AP II. “Bandara Soetta merupakan bandara besar dan tersibuk di Indonesia. Para penumpang dan kru pesawat dari luar negeri, harus melalui pemeriksaan, sejak mereka tiba di terminal kedatangan internasional,” ungkapnya.

Kepala KKP Kelas I Soekarno-Hatta Anas Ma’ruf menambahkan, pemeriksaan salah satunya dilakukan dengan penggunaan thermal scanner di terminal kedatangan. “Seluruh penumpang rute internasional dan kru pesawat akan dideteksi menggunakan thermal scanner sebelum masuk ke Indonesia. Apabila terdeteksi adanya penderita, yang salah satu indikasinya adalah demam, maka langsung diarahkan ke klinik,” jelas Anas.

Tak hanya screening lewat alat thermal scanner, KKP juga melakukan surveillance syndrome untuk mendeteksi apakah ada penumpang yang menderita virus Ebola. Selain itu, pihak KKP pun mewajibkan tiap pesawat yang datang dari luar negeri untuk menyerahkan dokumen general declaration yang menjelaskan penumpang serta ada atau tidaknya penumpang yang sakit.

“Kami juga sudah mengirim surat edaran kepada stakeholder termasuk airlines agar meningkatkan kewaspadaan. Seluruh klinik yang ada di Soekarno-Hatta, baik itu milik Angkasa Pura II dan sudah diinformasikan bahwa mereka harus segera memberi notifikasi apabila ada terduga penderita Ebola,” pungkasnya.