AP II Imbau Warga Tak Main Layang-Layang di Dekat Bandara Soetta

Tangerang – PT (AP) II belakangan ini giat melakukan sosialisasi larangan bermain layang-layang untuk para yang bermukim di sekitar . Imbauan tersebut kembali digalakkan lantaran kini telah memasuki musim kemarau. Saat musim kemarau biasanya warga yang berbatasan dengan Bandara Soetta sering bermain layang-layang.

Main Layang-Layang - wisataterbaikindonesia.blogspot.co.id

Main Layang-Layang – wisataterbaikindonesia.blogspot.co.id

“Di sekitar sini memang suka musim main layang-layang. Karena dapat komplain dari pilot, maka kami beri imbauan lagi karena mengganggu ,” ujar Endang Sudrajat, Petugas Penertiban Layang-layang Bandara Soetta, Senin (4/9), seperti dilansir Kompas.

Endang menjelaskan bahwa ia menemukan warga yang bermain layang-layang tersebut di sejumlah titik. Sebenarnya jumlah layang-layang yang diterbangkan tak terlalu banyak, namun ada di jalur take off dan landing, sehingga hal ini kerap dikeluhkan para pilot. “Jumlahnya tidak banyak, tetapi merepotkan bagian pengamanan (penerbangan),” tutur Endang.

Sementara itu, pihak Kantor Otoritas Bandara Soetta sendiri menyatakan bahwa bermain layang-layang di dekat bandara termasuk hal yang melanggar hukum dan para pelakunya bisa terancam hukuman pidana penjara paling lama 1 tahun dan denda Rp 100 juta. Nowo W. Soehadi selaku Kepala Bagian Tata Usaha Otoritas Bandara Soetta menerangkan, selain layangan, sinar laser dan drone juga termasuk benda yang mengancam keselamatan penerbangan.

“Layangan, sinar laser, dan drone paling banyak dikeluhkan pilot. Ketinggian layangan dan drone memang tidak seberapa, tapi cukup mengganggu dan menjadi ancaman. Ancamannya, layangan bisa masuk ke mesin pesawat. Kalau 10 layangan yang masuk kan gawat juga,” kata Nowo.

Larangan bermain layang-layang, drone, balon udara, laser, atau kegiatan lain yang bisa mengancam penerbangan juga sudah diatur dalam undang-undang. “Ini diatur dalam Pasal 210 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan,” ungkapnya.

Lewat aturan tersebut dikatakan bahwa setiap orang dilarang berada di daerah tertentu di bandara, membuat halangan (obstacle), dan/atau melakukan kegiatan lain di KKOP, yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari otoritas bandara.

Sosialisasi ini dilakukan dengan mendatangi sekolah-sekolah, warga di sekitar bandara, maupun menyebarkan spanduk di sekitar bandara. “Bahkan kata yang kami pakai sekarang bukan lagi ‘diimbau’ atau ‘jangan’, tapi ‘dilarang’,” tandasnya.